Kisah Sebongkah Sampah
Satu unit mobil mewah Lambhorgini dan Mercedes-Benz G-Class 320 dengan Plat nomor depan B, sedangkan pada bagian depan mobil menempel lambang bunga "Kenanga" sore itu melintas ditepi sebuah dusun yang jauh dari keramian kota. Tak lama lima orang pengawal beseragam batik dengan badan tegap turun dari mobil, tanpa sepatah katapun.
Singkat cerita, Entah apa yang terjadi, Sustiyo keluar dari rumahnya dgn dikawal ketat oleh lima orang tersebut dan masuk kedalam mobil berwarna hitam itu. Sebagian orang heran, namun sebagian orang mencibir tanpa alasan. Maklum namanya orang dusun. Mereka tak pernah tau apa yang terjadi, namun berusaha memberi kata tanpa arti.
"Biar saja, mati saja Si Sustiyo sama orang - orang itu, cuma bikin sampah disini. Tak berarti anak itu disini", cibir lelaki setengah baya dengan nada sumbang tak berirama namun dipaksa bersuara tanpa sajak.
Sehari, dua hari, sampai satu minggu Sustiyo tak juga pulang kembali. Orang - orang semakin ramai menghujat. Berbagai suara sumbang melantun tajam laksana duri diujung anak panah.
Namun, ketika senja mulai enggan bermain dengan udara panas, ditambah panasnya suasana gunjingan orang. Mobil mewah Lambhorgini dan Mercedes-Benz G-Class 320 warna hitam itu kembali datang. Kali ini diikuti oleh mobil berwarna Kuning dengan identitas sama pada bagian menempel lambang bunga "Kenanga".
Sustiyo turun dengan wajah sederhana seolah memang di dramatisir untuk berperan lugu sepanjang hidupnya. Tanpa suara dia langsung meraih tangan ibunya, seraya berucap, "alhamdulillah bu. Ini adalah waktu yang saya tunggu. Seperti yang pernah saya sampaikan pada ibu".
Kali ini orang - orang berubah menjadi heran dengan pertunjukan sore ini. Sustiyo yang mereka bicarakan dan mereka sangka tak akan kembali lagi, bahkan mereka sangka sudah masuk dalam jeruji besi namun kali ini berbeda.
Ada sebagian orang merasa tersinggung dan malu melihat adegan ini, mereka merasa malu karena selama kepergian Sustiyo kabar burung telah mereka sebar. Bahkan yang tak semestinya diceritakanpun turut mewarnai setiap nada dalam pembicaraan, tanpa memperdulikan itu fakta atau bukan.
Seorang perempuan berkulit putih namun tetap menyimpan senyum ramah dengan gerak geriknya tak pernah melupakan sifatnya sebagai orang Jawa, keluar dari rumah Sustiyo.
Sesekali dengan sangat sopan dia tersenyum seraya memberi salam kepada warga.
Sambil tetap tersenyum wanita itu mulai membuka suara.
"Sustiyo bagi kami sangat berarti. Dia bersama dengan para Guru dan sahabat-sahabatnya mampu menjaga amanah yang Bapak sampaikan. Amanah ini mampu dijaga dari Bapak sebelum meninggal hingga sekarang ini. Kami dari Keluarga Besar Kenanga di Jakarta mengucapkan banyak terima kasih untuk Jasanya", tutur perempuan berkulit putih itu.
"Kami pamit Pak.. Bu..",lanjut wanita ini dengan tetap menjaga senyum.
"Jika suatu saat berkunjung ke Ibu Kota, Atau berkunjung ke Taman Indah milik Almarhum Ibu, silahkan singgah di gubuk kami", ucap wanita berkerudung merah dan berkacamata bening ini dengan memberi salam santun kedua tangannya di bawah dagu.
Setelah mobil itu lenyap diujung jalan kecil yang sesekali hilang karna kabut putih. Orang - orang masih diam dan heran. Namun sebagian juga masih ada yang merasa geram.
Siapa sebenarnya wanita itu?
Siapa yang dia maksud Bapak?
Apa benar wanita itu yang sering disebut - sebut Mbak tatik Soemarto ?
Apa maksud lambang bunga "Kenanga" yang seolah seperti menunjukan arti sebuah keluarga besar ?
Apa hubungannya dengan Sustiyo yang selama ini mereka anggap hanya orang bodoh tak berguna. Setiap hari hanya duduk di depan meja sambil memandangi layar kaca. Tapi ternyata dia mempunyai amanah yang dijaganya sampai akhir hayatnya nanti, bahkan almarhumah istri, orang tua dan keluarganya pun tak pernah tahu ?
Inilah cerita Sustiyo yang suatu saat akan menjadi nyata....
~Sebait Karya: Joko Susetyo Art~
"Rahasia Cerita Usang - Binatang Jalang Dari Kumpulan terbuang"
21 APRIL 2018


